Keterjebakan

Adalah suatu keterjebakan ketika engkau terpaku pada ketakutan untuk memulai dari mana, hingga jari tidak jua berkata-kata. Bukankah tombol 'backspace' setia di sudut sana jika toh ternyata salah.

Adalah suatu perangkap ketika engkau terfokus dalam memilih kata-kata yang tepat dalam suatu kalimat yang tidak lengkap. Mengapa engkau harus berdiam lama jika bagian kosong itu dapat digantikan sementara oleh yang serupa meski tak sempurna.

Adalah suatu keterjebakan ketika engkau berfokus pada tulisan indah, sehingga engkau terlalu menghabiskan banyak waktu dan melewatkan ide-ide yang melintas cepat yang terdorong keluar dari kepalamu.

Adalah suatu perangkap ketika engkau terjebak dalam keteraturan, karena engkau sesungguhnya sadar bahwa pikiranmu melintas dengan bebas dan cepat bagaikan anak kecil yang bebas bertanya. Ia tidak pernah merasa terbeban jika pertanyaannya kali ini tidak terkait dengan yang sebelumnya. Ia melihat dan bertanya, Ia mendengar dan bertanya, Ia menerima jawaban dan kembali bertanya.

Adalah suatu keterjebakan jika engkau terfokus memberi makna dengan harapan orang lain ikut mengerti. Tak selamanya aksara berguna sebagai pesan. Ada waktu ia hanya luapan dari dalam hati. Bagaikan lelehan magma yang keluar dari kawah gunung karena di dalam sudah terlalu bergemuruh.

Adalah suatu keterjebakan ketika engkau terlalu menginginkan keindahan. Kerena keindahan tidak ditemukan pada balet semata yang indah dan gemulai, di tempat lain keindahan berarti meliuk bebas, melompat, dan bergerak tak beraturan.

Adalah suatu perangkap ketika engkau mewarnai dalam pagar-pagar garis, melukis dalam pagar-pagar bentuk atau objek nyata semata. Karena keindahan juga ditemukan dalam yang abstrak dan tak berbentuk atau lebih tepatnya ia berbentuk tidak sebagaimana yang kau kenali biasanya. Biasanya? Ah...kita terperangkap dalam yang biasa.

Adalah keterjebakkan jika engkau meyakini bahwa hanya ketika waras kau dapat berkarya. Bukankah tulisan Nietzsche tetap dibaca, melodi Schumann tetap didengar, dan guratan Van Gogh terus dipuja. Tuangan setetes dosis kegilaan menjadikan rasa begitu tidak terduga.

Adalah keterjebakan ketika kita memuja yang sama. Sama warnanya, sama benderanya, sama asalnya, sama tempatnya. Bukankah cinta, pertolongan, dukungan, dan persahabatan tetap dapat ditemukan pada liyan. Ah...itu mungkin hanya bagi para pelintas batas tidak bagimu para pemuja politik identitas. 


R.301, 4 Agustus 2017

Apri Yeni

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Integrasi Teologi dan Psikologi

Balada Rajawali kepada Seekor Camar